Window Dressing Kualitas Kredit semasa Pandemi

26 April 2022 Credit Risk / Regulations

OJK Minta Bank Waspadai Risiko Kredit Macet Saat Normalisasi 2023

Katadata, 25 April 2022 pukul 21.31

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, restrukturisasi kredit hingga Februari 2022 mencapai Rp 638,22 triliun atau 11% dari total penyaluran kredit perbankan. OJK telah meminta perbankan untuk menyiapkan pencadangan agar restrukturisasi kredit tak mengganggu neraca keuangan saat normalisasi kebijakan dilaksanakan pada 2023.

“Kami telah meminta bank untuk membuat pencadangan sehingga saat kami normal kan tidak akan berdampak pada neraca keuangan mereka. Permodalan bank juga kuat, rasio CAR mencapai 25%,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan media massa, Senin (25/4).

Biaya pencadangan adalah biaya yang disisihkan bank dari keuntungannya ke dalam Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Dana CKPN ini yang kemudian dapat digunakan bank untuk menghapus buku atau hapus tagih sebagai upaya terakhir penyelesaian kredit macet nasabah.

Selanjutnya:

OJK Minta Bank Waspadai Risiko Kredit Macet Saat Normalisasi 2023 (babe.news)

Komentar:

Sejak OJK menerbitkan “POJK Covid”, maka kredit yang direstrukturisasi, yang tadinya langsung masuk kolektibilitas 3, sekarang boleh dilaporkan sebagai kredit lancar, dan besar cadangan yang “wajib” diberikan juga keringanan, yang tadinya sesuai ketentuan PSAK 71 harus beralih menggunakan “life time PD’ sekarang dapat tetap dapat menggunakan “12-month PD”, sehingga tidak perlu menambah cadangan. Dengan kebijakan ini maka bank dapat melaporkan tingkat kredit bermasalah (NPL gross) relatif kecil, saat ini sekitar 3%. Memang benar, apabila satu waktu nanti, kebijakan ini ditarik, maka dikhawatirkan angka NPL ini akan dapat melonjak, dan apabila bank tidak siap dengan pencadangan, maka masalah akan timbul.

Rasio NPL adalah Kredit Kol 3+4+5 dibagi dengan total portofolio kredit. Untuk memperoleh gambaran mengenai potensi permasalahan diatas, maka bank melengkapi dengan rasio lain yang disebut dengan LaR (Loan at Risk) yang adalah kredit kol (1 restru + kol 2 + kol 3 + Kol 4 + Kol 5 dibagi dengan total portfolio kredit, yang secara nasional saat ini sekitar 20%. Nah pada golongan LaR ini bank harus memisahkan mana kredit kol 1 restru dan kol 2 yang diperkirakan akan menjadi lancar, dan mana yang berpotensi menjadi Kol 3 keatas. Untuk kol 1 restru dan kol 2 yang diperkirakan akan menjadi bermasalah inilah bank harus berupaya menyiapkan cadangan kredit macet secara memadai. Untuk dapat melakukan hal tersebut, sepertinya bank memerlukan tim spesialis kredit bermasalah, untuk dapat mendalami kondisi setiap nasabah, dan mengambil kesimpulan dan menyediakan cadangan sebagaimana mestinya.