Kaitan kualitas tata-kelola perusahaan (GCG) dengan Kinerja Keuangan perusahaan

26 April 2022 GRC

Liputan6, 24 Desember 2021 pukul 20.33

Asuransi Jasindo menjadi salah satu BUMN yang memiliki bisnis di sektor asuransi. Sebagai perusahaan plat merah, Jasindo tidak hanya bertanggung jawab kepada pemerintah, melainkan juga kepada masyarakat.

Guru Besar Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana menjelaskan, berdasarkan UU No 40 Tahun 2007 tentang PT (Perseroan Terbatas) ada tiga organ penting dalam suatu perusahaan, yakni Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris, dan Direksi.

Selanjutnya:

Asuransi Jasindo Pastikan Tata Kelola Perusahaan Sesuai GCG – Bisnis Liputan6.com

Komentar:

Benar sekali, Tata kelola perusahaan atau GCG (Good Corporate Governance) sangat menentukan dalam kualitas kinerja perusahaan. GCG antara lain melibatkan peran Direksi sebagai pelaksana kebijakan perusahaan, dan Komisaris yang bertugas menilai kinerja Direksi dan memberikan nasihat.

Kualitas GCG akan sangat menentukan kinerja perusahaan. Perusahaan dengan GCG yang baik pada umumnya dapat menghasilkan kinerja keuangan yang memuaskan, baik dari sisi pemegang saham maupun pemangku kepentingan lainnya. Sesuai regulasi, ada 11 parameter GCG yang perlu dilihat dalam proses menilai kualitas pelaksanaan GCG, dan dua parameter GCG yang sering menjadi batu sandungan bagi pencapaian kinerja perusahaan antara lain: (1) kualitas pelaksanaan manajemen risiko dan (2) kepatuhan pada kebijakan dan SOP yang sudah ditentukan perusahaan. Parameter lain yang juga penting adalah: sistem kontrol internal perusahaan.

Dalam hal pelaksanaan manajemen risiko, satu yang sering jadi kendala adalah perusahaan belum dapat menyediakan kebijakan dan SOP yang lengkap, dengan isi sesuai regulasi dan praktek terbaik. Juga seringkali kebijakan dan SOP tersebut belum dikomunikasikan secara baik pada seluruh jajaran organisasi, belum dapat memastikan bahwa mereka paham atas isi kebijakan dan SOP tersebut, dan tidak mematuhi ketentuan di dalam nya. Selain itu sering terdapat kelemahan dalam sistem informasi, sehingga manajemen puncak kesulitan memperoleh informasi dari data apabila terjadi suatu permasalahan. Identifikasi permasalahan sangat penting agar manajemen dapat menentukan di bagian mana yang perlu diperbaiki proses kerja nya, tidak gebyah uyah dalam proses perbaikan, dan masalah hanya dapat diidentifikasi dengan baik apabila didukung oleh informasi yang baik, yang berdasarkan data2 historis dari perusahaan.

Dalam hal kepatuhan pada kebijakan dan SOP perusahaan, pertama manajemen harus dapat memastikan bahwa pihak terkait paham mengenai aturan main yang berlaku pada perusahaan, dan Direktorat kepatuhan mempunyai sistem yang tepat guna untuk menangkap apabila ada diantara insan di organisasi yang tidak patuh pada aturan main tersebut.