Dorong Ekonomi, LPS Ingin Bunga Kredit Bank Bisa Cepat Turun

31 December 2021 News

Tingkat suku bunga penjaminan simpanan diharapkan mampu mendorong pengambilan kredit perbankan masyarakat. Untuk itu, Direktur Grup Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Herman Saheruddin berharap tingkat suku bunga bisa turun lebih cepat.

Ia juga menyebut penurunan tingkat bunga penjaminan diharapkan mampu mendorong terjadi penurunan suku bunga simpanan. Akhirnya juga akan berimbas pada penurunan suku bunga kredit.

Untuk selengkapnya dapat dilihat di link ini.

Komentar:

Menurut Laporan LPS per Juli 2021, cakupan penjaminan LPS dari jumlah rekening mencapai 99,92% atau 359.644.232 rekening simpanan, tapi dari jumlah nilai valuta, porsi penjaminan LPS hanya sekitar 41%: artinya, bank dan deposan besar memang tidak terlalu memperhatikan apakah simpanan nya dijamin atau tidak oleh LPS, kemungkinan mereka mengevaluasi sendiri mana bank yang aman untuk dijadikan tempat penyimpanan.

Namun demikian, simpanan yang dijamin maupun yang tidak dijamin tetap membayar premi, ini yang berbeda dengan asuransi biasa, dimana premi yang dibayar sesuai cakupan tanggungan perusahaan asuransi. Jadi kalau tarip premi LPS saat ini adalah 0.2%, maka efektif yang dibayarkan bank sebenarnya adalah: 100/41*0.2% = 0.49%

Jadi penurunan bunga penjaminan LPS tidak terlalu ada kaitannya dengan peningkatan perkreditan, atau penurunan bunga simpanan bank dan bunga kredit. Komponen terbesar bunga kredit bank adalah biaya dana (Cost of Fund). Terkait LPS, apabila premi yang dibayar hanya yang dijamin LPS saja maka biaya dana simpanan bank akan turun, dan bunga kredit baru dapat turun. Memang pengaturan premi sapu jagad ini diatur oleh UU kemungkinan agar LPS dapat memupuk dana yang dinilai memadai untuk beroperasi secara normal pasar. Selain Premi LPS, bank juga harus membayar iuran pada OJK. Waktu pengawasan bank dilakukan Bank Indonesia, tidak ada iuran untuk pengawasan bank, biaya operasional BI terutama dari aturan kewajiban GWM, dimana bank wajib menyimpan dana tanpa bunga (atau bunga rendah) di Bank Indonesia. Sesudah ada OJK, aturan GWM jalan terus, dan ditambah iuran pada OJK.

Masalah yang lebih dominan dalam upaya menurunkan bunga kredit selain biaya dana adalah: premi risiko dan biaya likuiditas, ini karena dana yang ada di bank belum dapat disalurkan secara optimal pada bisnis perkreditan, karena situasi bisnis yang belum normal dampak dari Covid-19. Porsi dana perbankan yang parkir di Bank Indonesia atau SBN masih sangat dominan. Selain itu aturan Pemerintah seperti aturan diatas, serta biaya operasional seperti efisiensi operasional, biaya permodalan (profit margin). Jadi kurang pas apabila menilai bank saat ini menikmati spread besar antara biaya dana dan bunga kredit saja. Yang mampu menurunkan bunga kredit harus nya bank2 besar yang mampu menetapkan bunga sesuai atau dibawah LPS, tanpa risiko nasabah keluar ke bank lain, karena persepsi “rasa aman” masyarakat, namun bank2 yang lebih kecil apalagi bank digital, umumnya sudah tidak mengacu lagi pada suku penjaminan LPS, tapi mereka tetap saja harus bayar premi penjaminan.