Sabar Chief! Bank-Bank Masih Lamban “Kencing” Kredit

8 September 2021 News

KREDIT, kredit siapa mau? Pada bulan Juli 2021 lalu, kredit bank melambat pertumbuhannya. Bank makin sedikit “kencing” kreditnya. Namun, justru bank “minum” terlalu banyak likuiditas. Tapi namanya bank selalu ada jalan. Meski kredit rendah, dan likuiditas banjir, toh masih ada Surat Berharga Negara (SBN). Nikmat apalagi yang kau dustakan.

Untuk selengkapnya dapat dilihat di <a href=”https://infobanknews.com/sabar-chief-bank-bank-masih-lamban-kencing-kredit/”>link</a> ini.

Comment:

Comment:
Pada sistem keuangan yang rasional, imbal hasil atau yield dari surat utang negara (SBN) disebut dengan “Risk free rate” atau bebas risiko, pada level yang paling rendah (karena bebas risiko). Yield simpanan masyarakat di bank biasanya lebih tinggi dari bunga SBN, karena bank tidak bebas risiko default. Jadi pemilik dana, apabila menyimpan uang nya di bank, akan menerima bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yield yang diterima apabila membeli SBN. Tapi saat ini di pasar terjadi anomali, dimana bunga di bank malah lebih kecil dari yield SBN, dan sepertinya masyarakat pemilik dana tidak mempunyai banyak pilihan lain, setelah terjadi sejumlah peristiwa gagal bayar rekdana, asuransi, Koperasi dan sejenisnya, yang membuat sebagian masyarakat pemilik dana ‘trauma’ dan memilih menempatkan dana di bank walaupun dengan bunga yang rendah.

Kondisi ini lah yang membuat bank juga tidak terlalu terpacu untuk menyalurkan kredit, karena pada jaman covid ini ada peningkatan risiko kredit. Toh dengan membeli SBN, bank sudah mendapatkan spread yang lumayan. Padahal sebenarnya, masih banyak sektor ekonomi yang dapat menjadi ojek penyaluran kredit di jaman Covid ini.

Kalau pemerintah dan otoritas serius ingin agar bank lebih cepat menyalurkan kredit, penyebab anomali ini harus diatas dahulu. Pertama, tentunya perlu menjaga agar tingkat infeksi Covid tetap dapat dijaga rendah, dan PPKM dapat dilonggarkan, agar usaha di banyak sektor dapat pulih kembali dan memerlukan bantuan kredit. Cara penanganan kejahatan kerah putih seperti sejumlah reksadana, asuransi dan Koperasi ditangani dengan benar khususnya para penegak hukum, jangan malah tindakannya merugikan investor yang tidak bersalah, dan membuat sekuritas asing ngeri berbisnis di Indonesia karena sistem hukum yang di mata mereka agak memberikan rasa tidak aman. Kalau peluang investasi sudah benar, tentunya masyarakat akan ada pilihan investasi selain di bank.

Sudah sekian lama BI menetapkan rate benchmark rendah, SBDK tidak turun sesuai dengan penurunan bunga simpanan, karena Masalahnya bank enggan melakukan ekspansi kredit, dan malas memilih sektor industri yang masih ada prospek, karena bank mempunyai pilihan membeli SBN yang bebas risiko dan hasil nya lumayan.