Bank Digital Belum Optimal Salurkan Kredit ke Korporasi, Ini Alasannya

digital
8 September 2021 News

Bank digital yang ada saat ini belum mampu mengoptimalkan penyaluran kredit ke sektor korporasi. Presiden Direktur Maybank Indonesia, Tazwin Zakaria menilai hal ini wajar karena segmen satu ini belum siap untuk dilakukan secara daring. Untuk selengkapnya dapat dilihat di <a href=”https://infobanknews.com/bank-digital-belum-optimal-salurkan-kredit-ke-korporasi-ini-alasannya/”>link</a> ini.

Comment:

Dari sisi kredit, digital lending sepertinya hanya sesuai untuk kredit dengan jumlah kecil, seperti consumer loan, pada perbankan tradisional menggunakan metode scoring. Berdasarkan pengalaman bank di masa lalu, scoring mencoba memprediksi apakah suatu aplikasi kredit akan menjadi lancar atau macet.

Metode scoring sering digunakan sebagai alat utama mengambil keputusan kredit, dengan metode ‘judgment’ sebagai pelengkap apabila diperlukan, karena ada beberapa sisi sistem scoring yang tidak sempurna, karena menilai kelayakan secara kaku. Sebagai contoh: Calon debitur pensiunan dengan harta banyak, dinilai jelek oleh sistem scoring karena tidak mempunyai gaji tetap. Sebaliknya pada segmen korporasi, metode rating (sama saja dengan scoring pada consumer) merupakan indikasi awal, keputusan kredit nya akan lebih menitikberatkan pada analisa tradisional dan judgment analis.

Pada digital lending, peran data historis bank digantikan oleh pemasok data karakteristik calon debitur seperti Telkomsel (data pelanggan Telkomsel), toped dan sejenisnya. Data ini memang bermutu tinggi karena sudah mengandung karakteristik dan perilaku yang mencerminkan kemampuan membayar. Namun demikian, sepanjang pengamatan penulis, jarang ada bank yang berani menggunakan basis analisa digital ini untuk memutus kredit dalam jumlah besar.

Dalam bidang pendanaan, pemilik dana besar juga banyak yang merasa was-was atas merebak nya berita dimana simpanan nasabah di bank mendadak raib. Yang sedikit banyak terkait dengan sistem bank digital bank yang tumbuh pesat sat ini. Yang sering menjadi kambing hitam adalah: nasabah tidak menjaga pin atau OTP dengan baik dsb. dsb. selain kemungkinan akun nasabah (atau bank) mengalami serangan siber yang belakangan menjadi semakin canggih. Maka dari itu, dalam bidang dana masyarakat pun, banyak pemilik dana besar lebih merasa aman apabila proses transaksi dilakukan secara tradisional.