Hore! Simulasi OJK Tunjukkan Kabar Positif Kondisi Perbankan

20 June 2021 Credit Risk / Liquidity Risk / Regulations / Stress Testing

Sindonews, Hafid Fuad, Minggu, 02 Mei 2021 – 16:00 WIB

Hasil stress test OJK menunjukkan stabilitas industri perbankan nasional masih terjaga. Foto/Ilustrasi

BOGOR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas industri perbankan di tengah tekanan akibat pandemi covid19 yang masih mengancam. Hal itu tampak dari stress test ketahanan perbankan yang secara intensif dilakukan OJK.

Berdasarkan hasil stress test per Maret 2021, disimpulkan hanya 7-12% nasabah restrukturisasi yang akan bermasalah. Hal itu diperkirakan akan berdampak menurunkan modal perbankan sekitar 1-2%.

Baca selanjutnya…  Hore! Simulasi OJK Tunjukkan Kabar Positif Kondisi Perbankan (sindonews.com)

Komentar:

Hasil Stress test OJK terhadap debitur restrukturisasi terkait Covid-19 menunjukkan hanya 7-12% nasabah restrukturisasi menjadi bermasalah, dan menurunkan tingkat modal 1-2%, jadi bank masih kuat bertahan.

Stress Test adalah melihat kondisi bank pada suatu skenario tertentu tentunya yang “extreme” tapi “plausible”, skenario ini penting ditentukan dengan baik sehingga hasil stress test menjadi kredibel. Faktor penting lainnya adalah analisa bagaimana dampak dari skenario tersebut pada portfolio dan kesehatan bank, dalam hal ini tingkat NPL dan posisi modal bank.

Laju pertumbuhan kredit sampai Maret 2021 kontraksi -2.4%, artinya penyaluran kredit baru dan tambahan lebih kecil dari pelunasan atau hapus buku. Biasanya debitur apabila usahanya baik, akan meminta tambahan kredit bukan nya melunasi. Kondisi ini menunjukkan, permintaan masyarakat masih lemah kemungkinan akibat PSBB dan sejenisnya, untuk meredam bahaya infeksi Covid-19. Selain itu ada angka yang menarik, Loan at Risk (LaR) mencapai 23.3%, artinya kredit kol 1 restru + Kol 2 + Kol 3 – 5 dibagi total kredit perbankan nasional mencapai 23.3%. Hal ini menunjukkan bank masih perlu hati2 menghadapi bahaya peningkatan NPL, khususnya Kol 1 restru dan kol 2, pindah menjadi golongan kredit bermasalah. Disini perbankan perlu mempunyai rencana kerja yang sistematis menangani debitur pada kelompok ini agar dapat disehatkan, dan menjadi kol 1 beneran. Logika nya, OJK pasti sudah dapat menilai bagaimana bank mengelola kredit pada golongan ini agar tidak menjadi bermasalah kedepannya.

AL/NCD mencapai 154,53% per Maret 2021, (AL = aktiva lancar, NCD = Non-Core Deposits), artinya, Aktiva tidak lancar (termasuk kredit) dibagi CD (Core-deposits) < 100%. Ini suatu indikator yang baik, artinya kredit bank didukung oleh dana stabil, bahkan dana stabil lebih yang dibutuhkan minimal 100%. Yang mungkin perlu ditinjau lagi adalah batas minimal AL/NCD dikatakan 50%. Pada kondisi ini, maka ada 50% dari total kredit bank didukung oleh dana yang tidak stabil (NCD), dan ini cukup berbahaya dilihat dari sisi risiko likuiditas, dimana pada kondisi krisis, NCD akan mudah lenyap dan bank akan mengalami kesulitan likuiditas.