Nih Loh! Duit Premi LPS, Selain Aman, Tapi Juga Likuid, Mister!

11 June 2021 Credit Risk / Liquidity Risk / Market Risk / News

Oleh: Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Institute, Infobank News 11 Juni 2021

MINGGU lalu, seorang kawan mengirim pesan lewat WhatsApp. Isinya, meminta infobank menulis, atau membuat webinar tentang kerentanan dana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Surat Utang Negara (SBN). ”Kalau ada bank bankrut gimana, kok numpuk di SBN, harusnya di tempatkan di bank-bank yang sehat. Jadi, sewaktu-waktu bisa diambil untuk menalangi bank dalam penyehatan,” demikian pesan pertanyaan nya

Baca selanjutnya…..

Komentar:

Apakah kalau LPS atau BPKH menyimpan dana nya di SBN itu aman? Semestinya ya, karena sudah sesuai undang2, dan SBN itu diterbitkan negara, jadi pasti dibayar kecuali kalau negara nya juga bangkrut (sangat kecil kemungkinan nya), jadi dari sisi RISIKO KREDIT, simpanan di SBN ini tidak ada risiko nya. Lain cerita kalau yang beli SBN itu LPS di negara lain, mereka punya persepsi mengenai “country risk” negara Indonesia, dan buat mereka, SBN Indonesia ada risiko kredit sesuai dengan rating negeri Indonesia. Tapi kalau LPS di negara sendiri yang tidak ada risiko kredit, masa ngga percaya pada negara sendiri.

Tapi nanti dulu, apa benar beli SBN itu tidak ada risiko nya?

Ternyata ada risiko lain yang mengintai dan perlu diwaspadai, yaitu risiko pasar atau risiko harga. SBN itu adalah obligasi yang biasanya memberikan pendapatan bunga tetap yang disebut kupon, dan mempunyai jangka waktu tertentu sebelum jatuh waktu. Nah. Harga pasar obligasi itu tergantung dari bunga pasar, apabila bunga pasar naik, maka harga pasar obligasi akan turun dan berlaku sebaliknya, kalau bunga pasar turun, maka harga pasar obligasi akan naik.

Mungkin ada yang coba berkilah, kan saya taruh SBN itu dalam bentuk HTM (Hold to maturity), artinya tidak usah dilakukan “daily mark to market”. Memang pada metode akunting, HTM dicatat pada nilai perolehan atau nilai buku, tapi tetap saja nilai pasar sesungguhnya akan tercermin pada saat posisi HTM itu dijadikan pinjaman berupa Repo misalnya ke BI, walaupun di buku nilainya tidak berubah. Oleh karena itu penting untuk mengelola risiko pasar dengan alat yang disebut dengan PV01 limit, VaR limit, duration gap limit, dengan maksud untuk menjaga agar arus kas dari aset akan mampu menutupi kewajiban aktuaria di sisi liabilitas.