Siaga menghadapi titik balik suku bunga?

11 March 2021 Market Risk

Siaga menghadapi titik balik suku bunga?

CNBC Indonesia tanggal 5 Maret menurunkan Ulasan, kondisi sejumlah indikator ekonomi di Amerika ternyata pulih lebih cepat dari perkiraan, yield treasury Bond 10 tahun yang meningkat sampai 1.6%, sehingga beda dengan suku bunga di Indonesia semakin menipis, yang memicu sebagian portfolio asing keluar dari pasar baik pasar obligasi maupun pasar saham, dan nilai tukar rupiah terpaksa nyungsep sampai sekitar Rp 14.600 setiap dollar nya.

Mohon Maaf, IHSG-Rupiah-SBN Sepertinya Bakal Babak Belur! (babe.news)

Apakah Bank perlu memperhatikan kenaikan Yield di Pasar obligasi AS?

Sementara Bank Indonesia masih tenang-tenang saja dengan suku bunga rendah, dan berpandangan, karena Amerika masih saja mengguyur pasar dengan likuiditas, maka pasar obligasi dan saham di Indonesia masih akan kebanjiran dana asing, dan berpendapat penurunan pasar obligasi dan saham saat ini bersifat sementara. Memang pergerakan faktor pasar seperti suku bunga dan nilai tukar tidak mudah untuk diprediksi, tetapi pengelola bank tentunya tidak ingin nasib bank dan kinerja nya digantungkan begitu saja kepada suku bunga pasar dan nilai tukar yang diluar kendali bank tersebut. Yang jelas, apabila posisi neraca bank saat ini banyak eksposur pada kredit dengan suku bunga tetap (seperti KPR dan kredit pada karyawan atau pensiunan), atau menyimpan banyak stok berupa obligasi dengan kupon tetap, maka ketika suku bunga pasar naik, maka pendapat bunga bersih atau NIM (Net Interest Margin) akan menyempit juga, dan ujungnya rentabilitas akan terkena imbas nya. Hal ini juga berlaku bagi bank syariah, dimana produk yang populer yang disebut dengan Murabaha (prinsip jual beli) dimana bank membeli aset, kemudian aset tersebut dijual pada debitur secara cicilan dengan angsuran tetap, kalau menggunakan bahasa bank komersial artinya ya kredit dengan suku bunga tetap juga. Pada saat bunga pasar naik, biasanya bank akan menambahkan yang namanya nisbah, agar nasabah dana tetap betah menyimpan uang di bank, Alhasil NIM nya juga akan menurun

Bagaimana Bank mengantisipasi perubahan suku bunga?

Bank memang tidak mempunyai kendali atas perubahan suku bunga dan nilai tukar rupiah. Yang bisa dilakukan bank adalah mengatur strategi seperti apa aset berupa kredit dan surat berharga yang perlu dikembangkan, dan simpanan masyarakat seperti apa yang perlu diberikan prioritas pertumbuhannya. Persoalan seperti ini pada umumnya dibahas dalam rapat tingkat senior di bank yang disebut dengan rapat ALCO (komite aktiva passiva).

Pertama, rapat berupaya sepakat mengenai arah pergerakan suku bunga pasar, atas dasar perkembangan indikator ekonomi seperti: perkembangan yield treasury bond, tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi dsb. baik di dalam negeri, maupun di AS sebagai pasar utama dunia, terkait dengan masih dominan nya investor asing di pasar Indonesia. Seperti diuraikan diatas, yield yang cenderung meningkat di AS, akan menyebabkan sebagian investor asing hengkang dari Indonesia, menyebabkan nilai tukar rupiah melemah, dan salah satu senjata bank sentral adalah menetapkan bunga acuan yang lebih menarik bagi investor asing tersebut.

Setelah ada kesepakatan mengenai pergerakan faktor pasar, bank akan memeriksa posisi neraca meraka, apakah ada gap antara aktiva dan passiva yang terpengaruh oleh meningkatnya bunga pasar. Untuk meminimalkan dampak negatif bagi NIM dan rentabilitas bank kedepan, bank mungkin harus menentukan bahwa sementara berhenti dulu membeli obligasi dengan kupon tetap, atau menjual yang sudah ada, dan menukar dengan aset lain dengan bunga mengambang. Untuk perkreditan, mungkin bank akan mempertimbangkan mengurangi eksposur pada kredit dengan bunga tetap, dan lebih mengutamakan menyalurkan kredit dengan bunga mengambang. Untuk posisi yang sudah ada yang memang tidak bisa di apa-apa kan lagi, tapi kedepan tentunya bank ingin mengurangi dampak negatif dari kenaikan bunga pasar ini dengan menetapkan strategi bisnis yang lebih tepat.

Kaitan dengan Pandemi Covid-19

Pada masa pandemi ini, memang menyalurkan kredit bukan perkara mudah dilihat dari risiko kredit macet, dan permintaan pasar yang juga belum pulih. Kelihatannya memang bukan soal suku bunga kredit yang menurut BI dan OJK belum turun-turun juga (sekarang bank2 besar sudah mulai menurunkan suku bunga kredit). Penyebab kredit sulit tumbuh lebih karena permintaan pasar yang memang masih lemah, karena pasar masih terganggu dengan adanya PSBB atau nama lain yang sejenis, yang pada inti nya menghambat pengusaha untuk berusaha, Pegawai banyak yang mengalami PHK, yang pada ujungnya mengurangi daya beli, dan industri jadi tidak bisa menjual barang produksi nya, dan akhirnya permintaan kredit bank juga jadi menurun. Nah, mungkin indikator yang lebih pas mengenai kemungkinan suku bunga naik dapat menggunakan kesuksesan vaksinasi Covid-19, yang apabila benar berhasil menekan perkembangan Covid-19 ini, maka PSBB akan dilonggarkan, pengusaha mulai bergairah lagi, dan permintaan kredit akan mulai marak, dan suku bunga pasar sepertinya akan naik dengan sendirinya. Kapan itu terjadi? Mungkin 6 bulan sampai 1 tahun mendatang, memang harus menggunakan yang namanya “educated guess” atas dasar analisa yang masuk akal.