OJK Minta Perbankan Utamakan Pencadangan Kerugian

24 January 2021 Banking Strategy / Credit Risk / IFRS9/PSAK55

Penulis: Ir. Pardi Sudradjat SE, MBA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta perbankan dapat mengedepankan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Adapun langkah ini untuk menjaga jika restrukturisasi tidak seluruhnya berhasil.

Latar Belakang
Akibat pembatasan usaha untuk menghambat Covid-19, banyak usaha menjadi terdampak dan mengalami kesulitan dalam membayar kewajiban kredit pada bank. Selanjutnya bank menjadi kekurangan cash-in-flow karena menurunnya pembayaran bunga dan pokok dan debitur. Untuk bank-bank besar kondisi ini masih diuntungkan dengan adanya krisis kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dana nya di bank menengah kecil, mereka cara aman memindahkan dana nya ke bank besar walalupun diberikan bunga simpanan yang sangat rendah. Menurunnya kepercayaan masyarakat ini akibat terjadinya beberapa peristiwa gagal bayar oleh perusahaan asuransi, reksadana dan sejenisnya, bahkan termasuk asuransi BUMN.

POJK Relaksasi
Untunglah bagi perbankan, OJK membantu dengan peraturan relaksasi, dimana bank dapat melakukan restrukturisasi atas kredit bermasalah nya dengan berbagai kelonggaran, yang ujung nya tidak begitu kentara pada kinerja keuangan seperti NPL ratio dan kewajiban pencadangan. Salah satunya bank tidak perlu lagi sementara mengikuti aturan dari PSAK 71 mengenai pencadangan, dimana apabila debitur di restrukturisasi, maka perhitungan cadangan kredit harus nya pindah dari yang tadinya 12 month ECL menjadi life time ECL, yang ujungnya menghasilkan kewajiban cadangan yang lebih besar. Nah, kalau sudah diatur dengan POJK relaksasi tadi, mengapa sekarang OJK harus meminta perbankan untuk mengedepankan CKPN?

Dilema Restrukturisasi debitur masa Covid
Bank kemungkinan besar memiliki portfolio kredit debitur yang terdampak Covid-19 seperti debitur dalam bidang usaha perhotelan, travel, developer, pariwisata, restoran dan banyak lagi. Ambil saja sebagai contoh perhotelan yang mengalami kesulitan membayar kewajiban karena occupancy rate melorot tajam. Apabila bank melihat bahwa krisis ini akan perlu waktu lama, dan sulit mengharapkan restrukturisasi akan membawa hasil yang diharapkan, biasanya, bank menyerah, memacetkan debitur, menyediakan cadangan dan mengandalkan recovery agunan saja, dan NPL akan naik. Namun demikian, mencairkan agunan relatif sulit pada masa pandemi ini, dan menyediakan cadangan juga bukan hal yang mudah. Sebaliknya dengan adanya POJK relaksasi, dan bank melakukan restrukturisasi, maka NPL tidak baik dan bank tidak usah menyediakan cadangan.

Restrukturisasi dengan tambahan kredit
Kemudian masalahnya, bagaimana kalau proses restrukturisasi membutuhkan tambahan kredit, yang menyebabkan eksposur risiko bank malah meningkat, bagaimana strategi bank sebaiknya apakah bank harus bersedia menambah kredit, mengingat hal ini diperbolehkan pada POJK relaksasi?
Menurut saya, bank memang harus gambling dengan melakukan estimasi pros cons proses restrukturisasi dengan tambahan kredit. Apabila pada debitur hotel diatas, bank berpandangan bahwa dalam periode waktu tertentu, usaha ini akan bisa recover seiring misalnya berhasil nya proses vaksinasi masal sehingga ekonomi bisa pulih dan pariwisata dan bisnis perlahan membaik, bank kiranya dapat membantu debitur nya agar tetap dapat hidup menunggu saat itu tiba, dengan tambahan kredit seminimal mungkin sebatas agar usaha tetap berjalan. Hal ini karena hotel kan harus dipelihara agar tetap dalam kondisi prima, harus ada biaya pemeliharaan minimal, hotel harus secara periodik di cat ulang, dibersihkan, dan gaji pegawai yang diperlukan agar pemeliharaan kondisi hotel dapat berjalan dengan baik sambil menunggu sat recovery tiba. Untuk analisa skenario kalau periode waktu recovery ternyata meleset, dan bank percaya bahwa hotel tsb. Dapat untuk sementara mengupayakan menjadi tempat isolasi pasien Covid, atau usaha yang dapat diterima lainnya, bank tetap dapat mempertimbangkan. Untuk ini memang diperlukan loan officer yang mampu mencerna logika dari debitur dalam menguraikan strategi menghadapi masa krisis. Kondisi ini dapat saja menjadi lebih baik ketimbang memacetkan debitur begitu saja padahal ada harapan recovery dengan langkah2 bank yang tepat.

Cadangan kredit
Balik ke persoalan diatas, apakah bank perlu mengutamakan cadangan kredit? Sepertinya memang diperlukan, karena seperti diuraikan diatas, sejumlah debitur bermasalah terkait Covid kemungkinan memang tidak akan bisa bangkit lagi pasca restrukturisasi. Tindakan bank memang berguna untuk menunda permasalahan agar laporan keuangan bank tidak serta merta menjadi tidak enak dipandang mata. Paling tidak bank dapat menunda kenaikan NPL, kewajiban menambah cadangan dsb. Tapi begitu ada kemampuan, memang sebaiknya bank memilah-milah mana debitur restrukturisasi yang memang sudah tidak ketolongan, dan disiapkan cadangan nya, sehingga saat POJK relaksasi sudah tidak ada lagi, bank tidak terkaget kaget harus menambah cadangan dalam jumlah besar. Menyicil memang lebih mudah ketimbang harus membayar sekaligus.