Suku Bunga Sangat Rendah – Senang atau Susah?

23 January 2021 Market Risk

by Pardi Sudradjat

Pendahuluan
Dalam menghadapi krisis keuangan seperti krisis global di Amerika, Krisis akibat pandemi di seluruh dunia, ekonomi terguncang, pertumbuhan ekonomi melambat bahkan negatif. Untuk merangsang ekonomi hidup lagi, pemerintah pada umumnya menggunakan kebijakan standar berupa relaksasi macam2, yang intinya menggunakan kebijakan moneter melonggarkan likuiditas pasar. Bank Indonesia terus menurunkan BI rate sampai saat ini mencapai 3.75%, ketentuan GWM juga diturunkan agar bank lebih leluasa meningkatkan pertumbuhan kredit. Pemerintah menyuntikkan dana di pasar, yang di Amerika disebut Quantitative easing, di Indonesia, mengguyur likuiditas ke pasar sehingga yield dari obligasi dan bunga pasar turun secara drastis, pada beberapa negara bahkan bisa jadi suku bunga yang negatif, dan harga instrumen keuangan seperti harga obligasi meningkat cukup tajam di pasar. Sebaliknya harga saham dan aset riil meningkat.

Tapi kalau kita belajar dari data historis, suku bunga pasar satu waktu akan meningkat lagi seiring dengan perubahan siklus ekonomi, terutama jika indikator ekonomi seperti tingkat pertumbuhan, inflasi, pengangguran dsb. membaik. Sebagian ahli memperkirakan hal ini akan menjadi kenyataan apabila upaya penangkalan virus corona dengan vaksin berhasil, sehingga kegiatan bisnis perlahan pulih dan permintaan kredit meningkat. Dalam kondisi ini, manajemen risiko suku bunga dengan ALMA perlu mencermati sehingga bank tidak terlambat mengantisipasi, sehingga kurang tepat dalam menetapkan strategi pertumbuhan aset dan dana masyarakat.

Dampak suku bunga rendah
Pada saat suku bunga sangat rendah seperti sekarang ini, strategi ALMA dan upaya memperoleh laba yang optimal menjadi tantangan banyak bank. Dampak lebih terasa pada perusahaan asuransi dan reksadana, terutama yang mempunyai produk dengan imbal hasil tetap, padahal hasil investasi dari premi sulit menghasilkan yield optimal, sehingga beberapa perusahaan asuransi cenderung lebih berani mengambil risiko lebih tinggi, akibatnya beberapa diantaranya mengalami gagal bayar. Kondisi ini diperparah dengan adanya bahaya Covid-19 dan ketentuan pembatasan usaha, sehingga banyak debitur kredit menjadi bermasalah. Walaupun OJK sudah mengeluarkan kebijakan relaksasi untuk membantu bank agar laporan keuangan mereka dapat lebih terlihat cantik, tapi tetap saja permasalahan ini apabila berlarut-larut, akan menjadi beban bank yang luar biasa nanti pada waktunya. Berita belakangan ini menyebutkan, OJK menghimbau bank lebih fokus pada penyediaan cadangan, artinya sudah disadari bahwa upaya restrukturisasi ini pada akhirnya akan menjadi masalah nyata dan menjadi beban bank. Bank hanya bisa menunda permasalahan misalnya dengan membuat kredit tersebut menjadi “ever green”, tapi sampai satu saat, semua akan menjadi fakta yang tidak dapat pagi disembunyikan.

BI rate turun, mengapa bunga kredit sulit turun?
Pada awalnya, bank, terutama bank besar mendapat keuntungan, karena banyak dana masyarakat pindah ke sana karena adanya krisis kepercayaan pada bank dengan risiko yang dinilai lebih tinggi. Bank menikmati spread yang melebar, karena bunga kredit dapat ditahan, sedangkan biaya dana sudah turun jauh. Banyak yang mempertanyakan, mengapa bunga kredit bank sulit untuk turun, padahal biaya dana bank sudah turun jauh? Ada yang memperkirakan, kondisi seperti ini terjadi karena saat ini bank sulit menyalurkan kredit, baik karena permintaan kredit memang turun akibat pandemi, dan bank juga mencium risiko yang lebih tinggi apabila memaksakan pertumbuhan kredit pada masa pandemi ini.

Fenomena ini terlihat dari rasio LDR bank (Loan to deposit ratio), yang sebelum Covid-19 berkisar 92% – 96%, sekarang LDR kebanyakan bank berkisar 80% – 85%, artinya banyak dana menganggur saja di bank, walaupun bunga dana lebih rendah tetap saja bank harus mengeluarkan biaya membayar bunga dana, sedangkan bisnis kredit mengalami hambatan. Jalan satu-satu nya ya menunda penurunan bunga kredit sehingga bank dapat terhindar dari kerugian.

Strategi Bank dan ALMA
Dalam situasi bunga cenderung turun, investasi dalam obligasi dengan kupon tetap, atau memberikan kredit dengan suku bunga tetap (misalnya KPR atau kredit pensiunan dan produk Murabaha bank syariah) cenderung lebih menguntungkan. Tapi bank perlu waspada dan wajib memiliki tanda-tanda peringatan dini kapan siklus akan berbalik, dan bunga kan mulai naik lagi. Salah satunya adalah indikator ekonomi membaik, dimulai dengan berhasil nya vaksin Covid-19 mengendalikan penyebaran virus, sehingga dunia usaha bisa full throttle lagi, yang mendorong indikator ekonomi membaik.

Dalam kondisi suku bunga meningkat, bank harus segera mempertimbangkan menetapkan strategi yang pas, antara lain menumbuhkan aset dengan bunga mengambang, dan menumbuhkan dana masyarakat dengan suku bunga tetap. Bank mungkin mempertimbangkan menghentikan atau membatasi produk kredit atau obligasi dengan bunga tetap, dan lebih mengutamakan aset dengan suku bunga floating. Disisi dana, bank dapat menciptakan produk yang merangsang masyarakat untuk menyimpan dana dalam jangka panjang, atau kontrak tabungan jangka panjang dengan imbalan tertentu.

Dalam bahasa ALMA, bank cenderung mempunyai reprising gap negatif, maka apabila suku bunga pasar cenderung meningkat, maka NIM (net interest margin) akan menurun, karena bunga pada sisi aset tidak bisa diubah, tapi biaya dana harus mengikuti kondisi pasar sehingga NIM menurun. Untuk mencegah NIM menurun, bank dapat menerapkan strategi seperti diuraikan diatas. Bagaimana dengan bank syariah khususnya produk Murabaha, dimana bank dan debitur mengikat perjanjian jual beli, yang sama saja dengan bunga tetap pada bank konvensional? Banyak cara yang dapat diupayakan bank mengatur produk yang tadinya ekuivalen dengan berbunga tetap, dengan cara tertentu menjadi dapat mengikuti kondisi (bunga) pasar.