Bisakah Kali ini Indonesia Bersatu Melawan Corona?

6 June 2020 Banking Strategy

Perkembangan terakhir upaya penanggulangan wabah Corona tampaknya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terlihat dengan sangat jelas sekarang ini, kesadaran, disiplin dan kepatuhan masyarakat kita rendah sekali. Atau barangkali menunggu kalau korbannya sudah banyak sekali baru orang sadar? Naudzubillahi min dzalik. Amit- amit jabang bayi.

Seperti disampaikan oleh Zou Yue, jurnalis CGTN Jaringan TV China Berbahasa Inggris, yang videonya viral, salah satu kunci keberhasilan China mengatasi pandemik Covid 19 adalah karena masyarakat kota Wuhan sangat tegar, sangat disiplin dan sangat patuh. Di samping tentunya juga karena kemampuan Pemerintah China menyediakan fasilitas kesehatan, tenaga medis yang menangani Covid 19 dalam waktu singkat.

Di Indonesia yang terjadi sebaliknya. Berita-berita di lapangan yang datang dari para tenaga medis di garda depan sangat memprihatinkan. Meskipun Pemerintah sudah berupaya keras, ternyata kita masih kekurangan fasilitas kesehatan, peralatan dan tenaga kesehatan. Karena semua rumah sakit penuh, tenaga medis tidak bisa bekerja optimal dalam menangani pasien Covid 19.

Artinya upaya untuk melandaikan kurva jumlah penderita Covid 19 (flattening the curve) sulit sekali. Apalagi jika pasien Covid 19 bertambah banyak karena penularan lebih cepat akibat orang tidak mematuhi himbauan untuk tinggal di rumah. Jika upaya yang sudah dilakukan tidak berhasil, tidak tertutup kemungkinan terpaksa Pemerintah akan melakukan isolasi paksa alias lock down. Tetapi ini tetap menjadi pilihan akhir. Sungguh patut disayangkan hingga saat ini masih banyak orang yang tidak sadar juga bahwa perintah untuk tinggal di rumah, untuk tidak berkerumun, social distancing, tujuannya adalah untuk memutus rantai penularan. Agar jumlah orang yang tertular Covid 19 tidak melonjak sehingga masih tercukupi oleh fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada. Itulah yang disebut melakukan upaya “flattening the curve.”

Saya sebetulnya tidak ingin membebankan kesalahan hanya kepada masyarakat. Menurut saya ada kesalahan dari Pemerintah juga. Kelemahan Pemerintah dari dulu hingga sekarang adalah pada fungsi kehumasan (public relation) yang buruk dan tidak kredibel bagi sekelompok anggota masyarakat.

Padahal masyarakat kita sebenarnya masyarakat paternalistik yang semestinya akan patuh kepada pemimpin, termasuk pemimpin informal seperti ulama.

Pemerintah harus memperbaiki cara berkomunikasi ke publik. Pada tahap awal ini Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Jenderal Doni Monardo bisa segera membentuk Tim Humas dan Juru Bicara Penanganan Covid 19 yang terdiri para tokoh masyarakat, pemuka agama, ulama, da’i dan penulis di media sosial termasuk para “buzzer”, sehingga apapun yang keluar dari Tim ini kredibel dan dipercaya.

Kalau kita amati dengan cermat sebetulnya saluran komunikasi yang dipercaya akar rumput dan netizen sekarang ini masih saja terbelah dua seperti ketika masa kampanye Pilpres yang lalu. Gamblangnya di satu pihak para pendukung Jokowi atau kelompok cebong hanya percaya saluran komunikasi, media massa, penulis medsos yang sudah ada sejak masa kampanye dulu. Di pihak lain para pendukung Prabowo atau kelompok kampret (sekarang dukungan dialihkan ke Anies Baswedan) juga hanya mempercayai saluran komunikasi, berita, penulis medsos dari kelompok mereka sendiri. Mereka tidak percaya berita-berita dari sumber informasi pihak Pemerintah sama sekali. Itulah yang terjadi mengapa imbauan tinggal di rumah, menjauhi kerumunan, social distancing dan sebagainya tidak dipatuhi. Himbauan untuk menghindari kerumunan termasuk untuk sementara tidak shalat Jumat berjamaah di masjid, ditangkap sebagian masyarakat sebagai larangan mengadakan sholat Jumat. Akibatnya ada masjid yang mengganti sholat Jumat dengan sholat dhuhur berjamaah ditambah doa qunut. Jadi tetap saja terjadi kerumunan yang berpotensi mempercepat penularan virus. Imbauan untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah disalahgunakan untuk jalan- jalan ke tempat wisata.

Kalau sudah terlanjur salah kaprah begitu, apa solusinya?

Di tengah masyarakat yang tingkat kepercayaan satu sama lain rendah (low trust society) menurut saya Jenderal Doni Monardo tidak punya pilihan lain, selain mengumpulkan semua tokoh panutan, sumber berita, penulis medsos, dan para “buzzer'” dari kedua-dua kelompok ini. Mereka diimbau dan diminta bantuannya untuk bersatu dalam semua komunikasi yang berkaitan dengan penanganan virus Corona ini. Karena sekarang ini sudah soal nyawa. Bukan soal kepentingan politik, masalah agama, suku, ras dan yang lainnya. Ini semata-mata soal kemanusiaan. Jika ada pihak yang setelah diajak membantu tetapi tetap tidak kooperatif, lebih baik ditangkap saja. Ketegasan diperlukan di masak krisis.

Sudah saatnya semua pihak bersatu teguh dalam menangani corona. Kejadian luar biasa, perlu ditangani dengan cara luar biasa.

Kini saatnya kita harus mampu meletakkan urusan kesehatan masyarakat di atas urusan politik, urusan bisnis, urusan agama dan yang lainnya. Saatnya bangsa Indonesia bersama sama melawan musuh bersama yang bernama virus Corona.

Sigit Pramono
Ditulis Dari Rumah
21 Maret 2020