Balancing – Strategi menghadapi Covid-19

24 May 2020 Banking Strategy / Credit Risk

Balancing – Strategi menghadapi Covid-19
Pardi Sudradjat, Partner, Asta Consulting, 22 Mei 2020

Dunia sudah ditakdirkan akan selalu menghadapi dua sisi yang terus berantem. Terang vs gelap, Baik vs jahat, yin vs yang, pandawa vs Kurawa, Rama vs Rahwana. Di dunia politik juga akan selalu ada dua pihak yang bertentangan, berbeda pandangan dan pemikiran. Sebenarnya tidak ada benar atau salah, tergantung dari sisi mana kita melihat.

Demikian juga di dunia perbankan, kita selalu menghadapi dua tujuan yang bertentangan, target pertumbuhan bisnis vs. risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional dan lainnya.

Profitabilitas dan risiko

Apabila bank ingin menggenjot pertumbuhan bisnis perkreditan untuk meningkatkan rentabilitas, bank harus menghadapi risiko kredit macet yang berpotensi malah menggerus laba mereka. Sebaliknya apabila bank terlalu parno dengan risiko, ujung nya, bank tidak berani melakukan ekspansi usaha, Alhasil laba yang diinginkan juga tidak akan dapat diperoleh.

Contoh lain adalah mengenai pengelolaan likuiditas. Bank harus memelihara sejumlah aset likuid tertentu, sehingga setiap saat bank akan selalu punya dana likuid yang dapat dipergunakan pada saat bank memerlukan dana tunai untuk membayar kewajiban. Berapa Jumlah aset likuid yang ideal dipelihara bank? Apabila aset likuid terlalu banyak, hal ini baik dilihat dari sisi pengelolaan risiko likuiditas bank, tapi dari sisi profitabilitas pasti kurang baik, sebagai yield dari aset likuid selalu dibawah biaya memelihara aset likuid tersebut, atau biaya yang harus dibayarkan pada pemilik dana. Sebaliknya apabila aset likuid terlalu sedikit, maka profitabilitas mungkin lebih tinggi, tapi bank menghadapi risiko likuiditas khususnya pada saat pasar mengalami krisis likuiditas.

Jadi permasalahan yang dihadapi oleh pimpinan bank, agar kinerja bank dapat menjadi optimal, bank perlu mencari titik keseimbangan antara kedua tujuan tersebut, bagaimana caranya menumbuhkan bisnis bank secara pruden, sehingga risiko yang ditimbulkan dapat dikendalikan dengan baik.

Covid-19 dan balancing

Pasien yang dinyatakan positif Covid-19 per tanggal 22 Mei 2020 bertambah sebanyak 634 orang sehingga menjadi 20.796 orang, 5.057 orang sembuh, dan 1.326 orang meninggal. Penambahan harian dari yang terinfeksi, menunjukkan trend yang terus meningkat dari hari ke hari. Pemerintah sudah mencoba menerapkan PNPB di sejumlah wilayah dengan akibat negatif pada kondisi perekonomian, dan banyak yang terkena PHK karena perusahaan tempat bekerja mereka bangkrut. Pengusaha kecil termasuk pengemudi ojek dan taxi juga terkena getah nya, dan mereka tidak dapat membayar kewajiban cicilan kredit ke bank. Perusahaan pembiayaan mengalami permasalahan karena debitur yang menunggak, dan merembet pada Bank yang memberikan kredit pada perusahaan pembiayaan, bank sendiri mengalami masalah arus kas karena banyak dari debitur mereka tidak membayar kewajiban.

Nah disini juga ada beberapa tujuan yang perlu dicarikan keseimbangannya untuk memperoleh hasil yang optimal. Beberapa tujuan tersebut antara lain: kesehatan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan dampak gejolak sosial. Apabila pemerintah hanya mementingkan kesehatan masyarakat, maka mungkin dapat saja dilakukan kebijakan lokdon seperti di Wuhan Tiongkok, dengan biaya yang super besar karena harus menanggung biaya hidup masyarakat yang tidak bisa lagi mencari nafkah. Selain itu, cara ini akan melumpuhkan perekonomian, memerlukan power dari pemerintah untuk meredam perlawanan dari ‘pihak seberang’, dan mencegah risiko gejolak social dari rakyat yang kurang makan.

Cara lain adalah seperti yang dijalankan di Indonesia, PNPB, yang saat ini banyak dilanggar oleh rakyat, sehingga jumlah yang terinfeksi naik terus. Ada wacana, PNPB akan dilonggarkan secara bertahap, agar ekonomi dapat tumbuh kembali, dan gelombang PHK dapat diredam, dengan akibat jumlah yang terinfeksi tidak akan dapat turun secepat pada cara lokdon total.

Strategi Ideal?

Cara apa yang dinilai ideal? Ini menjadi makanan empuk bagi para buzzer dan yang hobi nya menyalahkan kebijakan pemerintah, tanpa usulan solusi yang jelas. Ada malah yang meminta Pemerintah bertanya pada yang mengerti apabila tidak paham apa yang bisa diperbuat. Apakah memang ada yang paham bagaimana cara yang ideal mengendalikan masalah Covid ini? Orang Amerika saja bingung menentukan apa yang seharusnya mereka perbuat untuk meredam kenaikan kasus terinfeksi disana, yang saat ini menjadi negara penghasil infeksi Covid terbesar di dunia. Malah baru-baru ini Presiden Amerika berencana membuka lokdon di seluruh wilayah Amerika, bisa dibayangkan apa yang berpotensi terjadi nanti.

Sejumlah ahli dari Harvard Business School bulan Maret lalu mengadakan webinar soal ini, dimana disimpulkan bahwa di dunia ini memang belum ada yang berpengalaman menghadapi masalah sebesar Covid ini, dan tidak ada solusi Corvid yang tersedia ‘on the shelf’, jadi yang perlu dilakukan adalah coba-coba saja, dengan tujuan mencari keseimbangan antara beberapa parameter diatas tadi, yaitu menjaga keselamatan/kesehatan rakyat, menjaga kondisi perekonomian dan risiko gejolak sosial dari yang terkena dampak. Pemerintah sebenarnya wajar saja gonta-ganti strategi apabila strategi yang satu dinilai kurang optimal, dan pindah pada kebijakan yang lain, Begitulah seterusnya, sampai ketemu formula yang dirasakan paling pas untuk menghadapi Covid-19 ini.