Cara Cerdas Pemberian Kredit Pada Group Perusahaan

22 October 2019 Credit Risk

Oleh: Pardi Sudradjat, 22 Oct 2019

Sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah: group besar akan tahan banting dari segala goncangan masalah. Malah perusahaan besar akan memberikan bencana NPL turun secara signifikan sekali dia menjadi bermasalah. Jadi pemberian kredit pada group besar harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.

Bagian penting dari analisa kredit harus dengan jelas menguraikan siapa yang menjadi pemohon kredit. Apabila calon debitur mengelola beberapa perusahaan, analis harus terlebih dahulu memastikan kredit akan diberikan kepada badan hukum mana.

Pada umumnya sebuah grup usaha mempunyai beberapa anak perusahaan dengan badan hukum sendiri yang terpisah dari induk perusahaan, walaupun saham nya dimiliki oleh suatu perusahaan induk (holding company).

Kredit pada perusahaan Induk – analisa risiko

Kredit yang diberikan pada perusahaan induk cenderung menempatkan bank pada posisi yang lebih lemah apabila terjadi sesatu yang tidak diinginkan, terutama apabila perusahaan induk tidak memiliki aset lain selain kepemilikan saham pada anak perusahaan. Posisi yang lebih lemah tadi terjadi apabila ada bank lain yang memberikan pinjaman langsung kepada anak perusahaan yang beroperasi. Dalam hal terjadi permasalahan, bank-bank tersebut akan memperoleh kesempatan pertama untuk melakukan proses likuidasi atau menjual aset anak perusahaan, dan mempunyai peluang lebih besar untuk mengurangi kerugian akibat kredit macet.

Bank yang memberikan kredit pada perusahaan induk hanya dapat memperoleh saham pada anak perusahaan induk tersebut, yang merupakan satu-satunya aset perusahaan induk. Saham-saham ini hanya akan mempunyai nilai untuk membayar kewajiban apabila masih ada sisa setelah bank lain melakukan upaya penjualan aset, dan semua kewajiban pada kreditor lainnya telah dibayar. Hal ini merupakan kondisi yang kecil kemungkinan terjadi. Secara umum, bank akan lebih aman apabila mengadakan transaksi perkreditan dengan perusahaan yang beroperasi, yang merupakan sumber bisnis, aset, dan arus kas.

Namun demikian, bukan berarti bahwa bank sama sekali tidak layak melakukan transaksi kredit dengan perusahaan induk, bentuk dari banyak industri konglomerat, yang sering merupakan perusahaan terbuka. Perusahaan induk merupakan entitas terakhir yang terkena dampak dari masalah, dan memiliki arus kas dividen yang kuat dan teratur. Apabila perusahaan induk tidak memiliki fitur ini, lebih baik bank meminta jaminan “upstream” dari perusahaan anak yang beroperasi untuk memperkuat posisinya.

Risiko Over-price pada Perusahaan Group

Praktek over-invoicing atau kredit modal kerja yang di lebih2 kan sering terjadi pada perusahaan besar. Selain itu, bank juga agak sulit melacak penggunaan kredit yang sebenarnya. Tujuan perusahaan jelas, debitur cederung lebih senang menggunakan uang bank tanpa perlu menggunakan modal sendiri dan tidak perlu menanggung risiko bisnis. Bank, karena tekanan persaingan dengan bank lain, dan keinginan mencapai target pertumbuhan, cenderung melakukan praktek pembiaran, dan mengabaikan keamanan kredit itu sendiri. Pada saat terjadi masalah, maka dengan enteng perusahaan akan berupaya membawa ke ranah PKPU, mengharapkan restrukturisasi super ringan seperti pemotongan kewajiban, bunga rendah dsb. Kalau bank tidak mau, juga akan mengalami kerugian karena nilai agunan yang di lebih2 kan tadi. Jurus yang tepat untuk praktek ini hanyalah membawa keranah pidana penipuan.

Kredit pada Perusahaan Multi-nasional

Kepemilikan perusahaan dapat memiliki dampak yang menentukan pada kualitas kredit. Seringkali anak perusahaan multinasional asing dibiayai oleh pinjaman pemegang saham. Modal perusahaan dibuat minimal sehingga leverage perusahaan (DER) menjadi tinggi. Perusahaan seperti ini cenderung menampilkan laba sekecil mungkin. Keuntungan perusahaan sudah dikirim balik ke kantor pusat melalui sistem transfer pricing dan pembayaran bunga atas pinjaman pemegang saham.

Strategi seperti ini sengaja dibuat untuk mendapatkan laba operasional sebesar mungkin di luar negeri. Karena laba dibuat kecil, maka perusahaan juga membayar pajak seminimal mungkin, serta menggunakan modal sekecil mungkin. Selain itu, bunga pinjaman pemegang saham merupakan faktor pengurang pajak, sedangkan pembayaran dividen tidak dapat mengurangi pajak.

Walaupun dapat terjadi fenomena strategi seperti diatas, tidak berarti bahwa bank harus selalu menghindari membiayai perusahaan-perusahaan seperti ini. Walaupun struktur keuangan seperti diuraikan diatas berarti suatu Kelemahan yang nyata dari sistem keuangan perusahaan, Namun perusahaan semacam ini pada umumnya tidak mempunyai risiko yang melekat pada bisnis. Perusahaan seperti ini malah sering mengandalkan produk kelas dunia dan didukung oleh sumber daya R&D dan pemasaran, serta dukungan keuangan dari perusahaan induk.

Kekhawatiran beberapa Bank domestik terhadap kemungkinan bahwa perusahaan multi-nasional dapat dengan mudah ditutup dan meninggalkan hutang juga tidak merupakan argumentasi yang kuat. Perusahaan multinasional tentunya akan menjaga reputasi perusahaan untuk melindungi anak perusahaannya. Jarang sekali ada kasus dimana perusahaan multinasional sengaja meninggalkan anak perusahaannya, apalagi kalau perusahaan tersebut milik mereka 100% atau memiliki nama yang sama dengan perusahaan induk.

Perlu diketahui bahwa untuk mengurangi Kekhawatiran dari bank domestik, perusahaan multinasional, yang umumnya tidak bersedia mengeluarkan jaminan, sering mengganti dengan salah satu dari yang berikut:

  • Surat pengakuan, yang menegaskan bahwa perusahaan induk adalah pemilik dari anak perusahaan dan mengetahui limit kredit bank yang diberikan.
  • Surat keterangan, bahwa kebijakan perusahaan induk adalah mendukung anak perusahaannya.
  • Surat dukungan, bahwa perusahaan induk berjanji akan melakukan semua yang perlu dilakukan agar anak perusahaan tidak mengalami gagal bayar.

Meskipun dokumen di atas secara teknis bukan merupakan jaminan, namun dokumen tersebut penting dipegang bank mengingat status dari penerbit yang merupakan induk perusahaan.