Risiko Siklus Bisnis pada Analisa Kredit

8 October 2019 Credit Risk

Oleh: Pardi Sudradjat

Ekonomi tidak statis, melainkan berubah pada periode tertentu kadang tumbuh tinggi kadang menurun, yang dikenal sebagai siklus bisnis, yang tidak dapat dihilangkan.  Tapi pemerintah dengan kebijakan tertentu dapat mengurangi dampak negatif sewaktu ekonomi sedang menurun. Naik turun nya siklus bisnis seperti tampak pada pertumbuhan GDP riil Indonesia tahun 2016 – 2019.

Pertumbuhan PDB 206 – 2019

Apabila data PDB tersebut diambil lebih panjang, akan dapat terlihat empat kondisi resesi, krisis, recovery dan boom.

Resesi

Pada saat resesi, aktivitas bisnis menurun, tingkat pengangguran meningkat, penjualan menurun dan laba ikut turun. Bagi bank, tanda-tanda ini diikuti oleh penurunan kemampuan debitur membayar kewajiban kredit nya, khususnya pada perusahaan dengan DER tinggi.

Pada saat ini biasanya inflasi dan suku bunga sudah naik, dan perusahaan pada umum nya pada sibuk untuk mengetatkan ikat pinggang menghemat biaya operasional. Secara umum dapat dikatakan, bahwa apabila pertumbuhan PDB negatif selama dua triwulan, maka ekonomi sudah dalam kondisi resesi.

Pada kondisi ini pemerintah biasanya menggunakan kebijakan moneter dan fiskal untuk memperbaiki suasana, misalnya dengan menurunkan BI rate, memberikan kelonggaran likuiditas melalui penurunan GWM, membeli SBN di pasar atau memberikan stimulus fiskal. Pada saat ini, bank perlu mengidentifikasi mana dari debitur kredit bank yang memperoleh keuntungan dengan langkah kebijakan fiskal dan moneter dari Pemerintah. Upaya penyaringan ini penting bagi bank untuk membangun portfolio kredit yang berkualitas pada masa resesi.

Krisis (Resesi Akut)

Kondisi terburuk setelah resesi, dimana tingkat pengangguran mencapai tingkat tertinggi, tingkat produksi mencapai titik terendah, Index IHSG pada posisi terendah, sejumlah bank menjadi bermasalah akibat timbunan kredit macet dsb. Pada tahun 1998, perlemahan nilai tukar di banyak negara ASEAN menimbulkan krisis ekonomi, sehingga memerlukan bantuan dari IMF.

Recovery.

Kondisi ekonomi terlihat membaik, tingkat kepercayaan meningkat dan aktivitas ekonomi mulai bergairah. Index saham meningkat dan tingkat pengangguran mulai menurun. Investasi dan laba perusahaan meningkat. Laba meningkat lebih cepat dari upah pekerja karena produktivitas meningkat.

Pada phase recovery, tambahan investasi memberikan stimulus misalnya penyediaan tempat kerja baru, kebutuhan kredit bank dsb.

Puncak dari recovery atau Boom

Kinerja perusahaan ada pada puncak keberhasilan, tingkat pengangguran terendah. Pasar bergairah dengan harga jual tertekan oleh persaingan. Sering terjadi investasi pada industri yang sudah over-supply dengan bantuan bank yang tidak paham, menciptakan bisnis dengan risiko tinggi dan imbal hasil rendah. Kondisi ini dapat memicu krisis keuangan dan menyebabkan resesi pada saat nya.

Ironis nya, pada saat ini banyak bank melupakan siklus sejarah, terus saja menerapkan strategi pertumbuhan kredit yang tinggi, dengan keyakinan kondisi bullish akan terus berlangsung. Bank dengan perilaku tersebut akan didera NPL tinggi pada saat siklus memasuki phase resesi. Justru pertumbuhan kredit seharusnya dilakukan pada akhir masa resesi, tapi hal ini sangat tergantung dari sektor industri dan kualitas debitur nya.

Analisa Siklus bisnis pada analisa kredit

Dengan melihat siklus bisnis seperti diatas, analisa kredit harus fokus pada bagaimana dampak dari siklus bisnis terhadap kinerja debitur, dan analis harus menilai bagaimana daya tahan dan kualitas manajemen dari perusahaan untuk mengatasi dampak negatif dari siklus bisnis tersebut, dan dampak nya pada analisa industri dimana debitur menjalankan usaha nya.

Pemahaman atas siklus bisnis dimana kredit mengalami ekspansi dan kontraksi sepanjang siklus bisnis, perlu menjadi bagian pada analis kredit, khususnya pada analisa kualitas portfolio kredit bank.

Pada saat ekonomi tumbuh, hampir semua usaha mempunyai kinerja baik. Pada masa resesi, risiko kredit meningkat, kinerja perusahaan menurun kecuali perusahaan tertentu yang mempunyai strategi yang tepat, atau perusahaan yang tidak bersifat Siklikal seperti perusahaan farmasi, makanan minuman atau perusahaan yang dapat mengambil manfaat dari stimulus fiskal oleh pemerintah.

Monitoring Kredit dan siklus bisnis

Dengan terus memantau kondisi ekonomi, bank dapat memelihara portfolio kredit dengan aset berkualitas. Apabila bank mempunyai sistem EWS (Earning Warning Signal) untuk mendeteksi debitur Siklikal pada awal terjadinya resesi, maka bank dapat menerapkan strategi exit pada debitur dimaksud, sebelum menjadi bermasalah pada saat resesi benar2 terjadi.

Indikasi yang mengarah pada phase siklus Bisnis

Dari analisa ekonomi sederhana, analis dapat memperkirakan posisi siklus bisnis yang akan datang. Misal nya soal perang dagang Tiongkok dan USA. Karena Kedua negara itu merupakan partner dagang utama Indonesia, tentunya banyak dari debitur bank terkena dampaknya.

Pertama, Perang dagang akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi kedua negara itu menurun, yang kalau dibiarkan terus dapat menjadi negatif atau resesi. Nah kalau terjadi resesi, maka permintaan komoditas juga akan menurun, dan harga komoditas, yang merupakan andalan ekspor Indonesia menjadi lemah, sehingga debitur di Indonesia yang menjual produk ke negeri tersebut akan menurun penjualan nya. Seperti nya, masa resesi akan tiba, dan bukan saat yang tepat menumbuhkan kredit terlalu agresif, kecuali dilakukan secara selektif pada perusahaan tertentu sebagaimana sudah diuraikan diatas.

Pardi Sudradjat adalah CEO dari ASTA Consulting