Menakar Nilai Pasar dari Kredit Macet

5 October 2019 Market Risk

Untuk mengatasi permasalahan kredit macet, bank mempunyai beberapa pilihan antara lain: (1) melaksanakan program restrukturisasi untuk debitur yang dinilai kooperatif dan usaha nya dinilai masih ada prospek (2) Melikuidasi agunan atau litigasi lewat pengadilan untuk debitur yang tidak kooperatif atau dinilai tidak mempunyai prospek (3) mengalihkan kredit macet pada perusahaan yang memang didirikan untuk menampung kredit macet, yang disebut dengan SPV (special Purpose Vehicle) dan (4) menjual kredit macet pada pihak ketiga (bank atau hedge fund) dengan diskon. Yang terakhir ini sudah terlaksana beberapa namun belum terlalu berkembang. Masalah nya antara lain perbedaan persepsi dari penjual dan pembeli mengenai berapa nilai wajar dari kredit macet tersebut, seberapa jauh nilai jual ada dibawah nilai buku pada neraca bank, yang disepakati kedua-belah pihak.

Parameter pembeda dalam proses valuasi

Nilai wajar semua jenis aset adalah nilai tunai (present value) dari arus kas mendatang yang diharapkan (expected future cash flow), dengan menggunakan angka diskonto tertentu. Bank biasa nya menggunakan angka diskonto suku bunga yang dikenakan pada debitur (kalau tidak macet). Jadi nilai buku dari suatu kredit, adalah nilai tunai dari pembayaran pokok dan bunga, dengan menggunakan angka diskonto bunga awal yang dikenakan bank pada debitur tersebut.

Dimana: BV =Book value (nilai buku), I = angka diskonto, suku bunga awal; CF = arus kas dari bunga dan cicilan pokok kredit; t = jangka waktu kredit.

Kalau debitur menjadi bermasalah, maka ada ketidakpastian tambahan dari arus kas mendatang, sehingga diperlukan angka diskonto baru yang lebih tinggi, seberapa tinggi ini yang belum ada patokan menentukan nya. Dilain pihak, pihak pembeli kredit macet biasanya mempunyai leverage lebih rendah dari bank (jumlah modal lebih besar) sehingga memerlukan imbal hasil yang lebih besar agar dapat ROE (return on equity) yang wajar.

Cara lain untuk menentukan NV (new value) adalah menyesuaikan formula diatas dengan Cash flow baru yang merupakan estimasi jumlah recovery dari proses restrukturisasi, dan waktu yang diperlukan untuk recovery yang baru, sedang angka diskonto tidak usah diubah.

CF’ adalah estimasi arus kas yang baru dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan, metode dan biaya restrukturisasi, PD (probability of default), LGD (loss given default) dsb. N’ adalah periode waktu recovery yang baru yang tentu nya lebih panjang dari kontrak awal, dengan mempertimbangkan waktu yang diperlukan untuk melikuidasi agunan dsb.

Dengan demikian, penyesuaian harga wajar kredit macet adalah:

R = perbedaan dari nilai buku atau expected loss dari bank, Dimana BV= nilai buku, dan NV = nilai baru setelah kredit menjadi bermasalah.

Apabila nanti nya kredit menjadi lancar lagi, berarti akun kredit dapat menghasilkan recovery = R, atau bisa juga kondisi malah semakin jelek, sehingga bank harus menurunkan lagi nilai pasarnya dan menambah cadangan CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai).

Penilaian Investor Pembeli

Investor akan melakukan perhitungan yang sama dengan bank seperti diuraikan diatas, namun sering kali menghasilkan nilai yang berbeda, lebih rendah dari estimasi bank diatas. Berbagai faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah:

  1. Biaya restrukturisasi di bank dibebankan pada periode dimana biaya terjadi, sedangkan dari pihak pembeli, semua biaya restrukturisasi langsung dibebankan di awal untuk memperoleh harga beli yang lebih rendah.
  2. Informasi yang dimiliki bank mengenai debitur tidak sama dengan informasi yang dimiliki investor, khususnya mengenai estimasi kemampuan perusahaan melaksanakan restrukturisasi. Untuk menutup risiko ini, angka diskonto yang digunakan tidak lagi suku bunga awal yang dibebankan pada debitur, melainkan tingkat imbal hasil yang diharapkan oleh investor, yang lebih tinggi dari bunga bank debitur perusahaan.