Strategi Bank pada Era Perlambatan Ekonomi

20 September 2019 Banking Strategy / News

Apabila bank mengalami permasalahan pada kinerja, pada umumnya bank akan berupaya melaksanakan upaya perbaikan yang disebut dengan transformasi pada segala bidang kerja, misalnya proses kerja, kebijakan dan SOP dsb. Salah satu kondisi yang dapat mendorong bank melakukan transformasi adalah: kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bisnis bank utama, yaitu perkreditan.

Pada saat ini, akan sulit bagi industri perbankan untuk mengatakan bahwa kondisi pertumbuhan saat ini menggembirakan. Pertumbuhan PDB sat ini stagnan pada kisaran 5% dengan kecenderungan menurun, mengikuti penurunan pertumbuhan PDB di negara partner dagang utama: Tiongkok dan Amerika Serikat. Proyeksi pertumbuhan kredit secara umum dapat diperkirakan dari pertumbuhan ekonomi riil (5%) ditambah estimasi inflasi sekitar 3.5%, jadi sekitar 8.5%. Bank yang berniat merencanakan pertumbuhan kredit diatas angka ini, perlu benar-benar memastikan bahwa hal tersebut akan mampu dilaksanakan dengan tetap memegang prinsip kehatihatian.

Strategi pada Kondisi persaingan antar bank yang tinggi

Karena permintaan kredit dari nasabah meningkat, bank cenderung bersaing satu dengan lainnya untuk memberikan pelayanan dan harga yang lebih menarik. Padahal, debitur pengguna akhir (end user) pada kondisi ekonomi melambat, cenderung sulit mengembangkan usaha nya, yaitu menumbuhkan penjualan produk yang berkualitas dengan harga bersaing. Apakah kinerja buruk dari debitur yang tercermin dari meningkat nya NPL bank sebagian kesalahan bank juga yang terus menyalurkan kredit pada saat ekonomi melambat? Pada kondisi ini, biasanya akan ada pemenang pada industri perbankan, yaitu bank yang dapat melakukan bisnis secara efektif dan efisien, dengan standar tinggi memberikan pelayanan berkualitas tinggi. Memang untuk mencapai ini tidak pernah akan mudah melakukan nya, tapi mungkin dilakukan!

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan efisiensi operasional. Kebanyakan dari perbankan mempunyai ruang cukup besar dari sisi biaya untuk meningkatkan efisiensi, khususnya operasional yang cenderung terjadi duplikasi dan aktivitas yang tidak perlu dan dapat dihilangkan. Banyak bank yang belum sepenuhnya memanfaatkan manfaat dari teknologi secara optimal, padahal teknologi tersebut sebetulnya sudah ada di bank. Sambil menunggu ekonomi membaik katakanlah 3-4 tahun lagi, ada baiknya bank bebenah meningkat efisiensi operasional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan misalnya melakukan proses merger atau akuisisi untuk bank yang lebih kecil, sehingga dapat meningkatkan skala ekonomi dan beroperasi secara lebih efisien.

Proses transformasi

Transformasi dapat dilakukan dengan melakukan proses kerja yang berbeda secara drastis dengan apa yang sekarang dilaksanakan. Proses ini bermaksud menghilangkan berbagai rintangan yang dapat menghambat pelanggan melakukan transaksi bisnis dengan bank.

Sebagai contoh, dulu bank sangat mengandalkan cabang untuk memperluas secara cepat bisnis perolehan dana masyarakat maupun pertumbuhan kredit. Dengan era digital saat ini, bank dapat mempertimbangkan menggantikan fungsi cabang dengan proses digital banking. Beberapa bank yang sudah melakukan nya antara lain dengan produk yang disebut Digibank dan Genius, dimana pelanggan sangat dipermudah untuk melakukan berbagai transaksi keuangan dengan bank, yang dulu nya perlu menggunakan peran cabang. Untuk bidang perkreditan, sejumlah perusahaan FinTech sudah banyak melakukan proses kredit pada nasabah secara langsung dengan menggunakan teknologi artificial intelligent, yang saya kira akan segera diadopsi juga oleh perbankan nantinya.

Budaya Kredit

Selain biaya operasional perbankan Indonesia yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan perbankan internasional pada umumnya, biaya lain yang besar juga adalah dengan cadangan kredit macet atau CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai). Penghematan pada biaya operasional akan dengan cepat hilang akibat meningkat nya kredit macet pada portfolio kredit bank. Kredit bermasalah merupakan muara dari budaya kredit yang lemah. Bukti nya, industri perbankan terus saja mengalami krisis berulang akibat melakukan kebijakan perkreditan yang longgar pada saat ekonomi menguat atas nama membela persaingan. Sudah saat nya bank memperbaiki kualitas dari budaya kredit, dan memberikan keyakinan pada pemegang saham, regulator dan pemangku kepentingan lainnya, bahwa bank akan lebih disiplin dalam menjalankan usaha nya dan belajar serius dari kesalahan yang dibuat di masa lalu sehingga mengakibatkan industri perbankan mengalami krisis.