Penetapan Limit Treasury

20 September 2019 Market Risk

Model pada proses manajemen risiko baru bisa memberikan manfaat apabila model tersebut digunakan secara efektif bersama dengan pengelolaan limit risiko dan penilaian proses kontrol.

Limit risiko memainkan peran penting dalam upaya mencapai tujuan ini. Tapi bagaimana caranya menetapkan limit risiko yang efektif sebagai alat mengelola risiko? Bagaimana kalau unit bisnis ingin limit dilonggarkan agar dapat bertransaksi secara lebih leluasa, apakah harus dikabulkan, dan atas dasar apa?

Secara ideal pengaturan proses menetapkan limit hendaknya didasarkan pada prinsip-prinsip pokok sebagai berikut:

  • Bank menetapkan tingkat risiko yang dinilai pruden (risk appetite), yang selanjutnya dijadikan referensi penetapan limit.
  • Limit harus terkait dengan risiko, artinya penggunaan limit mencerminkan risiko yang diambil bank.
  • Limit harus memberikan ruang cukup bagi unit bisnis melakukan aktivitas dan memanfaatkan peluang-peluang yang tersedia tanpa terlalu terikat secara kaku oleh sistem limit.
  • Bank menetapkan hard-limits (tidak boleh dilanggar dengan sangsi pemecatan) dan soft-limits (dengan Sangsi harus mengurangi misalnya posisi).

Rule of thumb: Tidak terlalu tinggi sehingga tidak atau jarang terlewati, namun tidak terlalu rendah sehingga sering terlanggar.

Kerangka limit risiko dapat dibagi dalam:

  1. Limit operasional yang memerlukan tindak lanjut segera misalnya mengurangi posisi mencakup (1) Stop loss limit dan capital loss limit (2) limit umur posisi dan (3) limit konsentrasi.
  2. Limit transaksimisalnya (1) limit Eksposur, limit sensitivitas, limit pre-settlement (PSR), limit PFE (potential future exposure).

Menetapkan Stop Loss Limit

Pertama bank menetapkan risk appetite, berapa besar modal bank yang dicadangkan untuk menutup potensi kerugian. Sebagai contoh: alokasi modal = Rp 1 milyar, target ROE = 20% = Rp 200 juta per tahun. Minimum ROE yang dapat ditolerir = 10% = Rp 100 juta per tahun. Jadi limit capital loss = Rp 100 juta per tahun.

Dari data diatas, target stop loss limit adalah target ROE 20% dikurangi minimum ROE 10% = 10%. Limit eksposur = capital loss limit dibagi loss limit 10% = 100: 10% = Rp 1.000 juta, yang selanjutnya dibagikan pada divisi dan dealer treasury. Pada umumnya loss limit ditetapkan dibawah target loss limit untuk mengcover potensi posisi tidak bisa dicairkan segera di pasar saat loss limit dilewati misalnya dari 10% menjadi 8% seperti contoh dibawah ini:

Value at Risk Limit

VaR limit dapat menggunakan confidence level 75% untuk 10 days holding period (sesuai definisi VaR: kerugian dapat lebih besar dari jumlah maksimum kerugian 1 hari dalam 4 hari kedepan), dengan limit max sebesar limit capital loss (pada contoh sebelumnya: Rp 100 juta). Misalnya pada kondisi diatas diperoleh VaR = 15% * Rp 500 juta = Rp 77.5 juta. Capital loss limit Rp 100 juta, jadi yang limit digunakan adalah yang lebih kecil yaitu Rp 77.5 juta.

Regulatory VaR Limit

Sesuai ketentuan pada Basel 2 internal model, VaR menggunakan confident level 99% dengan holding period 10-hari. Faktor pengali dengan CL 99% = 2.326; dan dengan CL 75% = 0.674. VaR limit adalah (2.326 – 0.674) * volatilitas 10% * posisi Rp 500 juta = Rp 82.6 juta.

Apabila unit bisnis menginginkan limit lebih besar, maka tentunya target laba atau ROE harus meningkat sesuai risiko yang lebih besar, tapi tetap tidak dapat melewati risk appetite sesuai kebijakan bank.