KPI dan Kinerja berbasis Risiko

20 September 2019 Enterprise Risk Management

KPI atau key Performance Indicator biasa digunakan bank untuk mengukur kinerja pegawai setiap tahunnya. Yang dinilai mempunyai kinerja baik, dapat menerima kenaikan gaji, bonus atau kenaikan pangkat. KPI perlu disusun secara hati-hati agar dapat berfungsi sebagai alat untuk mendorong motivasi pegawai untuk memberikan yang terbaik, dan pada akhirnya berkontribusi pada perolehan laba perusahaan.

Balance Scorecard (BSC)

Balanced Scorecard yang diciptakan oleh Robert Kaplan adalah salah satu cara pengukuran kinerja bisnis yang mempertimbangkan kinerja keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern. Ada empat perspektif yang dilihat yaitu (1) keuangan, (2) pelanggan, (3) pembelajaran dan pertumbuhan karyawan, (4) proses bisnis internal. Konsep BSC sudah lama dikenal pada industri perbankan sebagai alat pengukur kinerja karyawan, namun pada prakteknya, disadari atau tidak, perusahaan tetap saja fokus pada pencapaian kinerja atas dasar volume dan keuangan, kurang pada proses mencapai kinerja tersebut.

KPI dan perilaku pegawai

Pada satu kesempatan, saya bertanya pada seorang relationship manager (RM). Misalkan Anda belum mencapai target pertumbuhan kredit, dan ada satu calon debitur yang memberikan data yang dinilai belum lengkap dan tervalidasi. Mana yang Anda pilih? (1) tetap mengupayakan kelengkapan dan validasi data debitur dengan konsekwensi tidak mencapai target pertumbuhan kredit. (2) menggunakan data yang belum lengkap dan benar sebagai dasar memberikan rekomendasi pada komite kredit. Anda mencapai target, tapi dengan risiko komite menggunakan data yang belum benar dan menyetujui kredit yang tidak layak. Kebanyakan memilih alternatif dua, karena apabila belum mencapai target, warna kinerja merah dan posisi dan reputasi pegawai tersebut akan bermasalah.

Penggunaan sistem traffic light juga banyak digunakan oleh berbagai bank pada penilaian kinerja bulanan dari divisi, wilayah dan cabang. Warna merah berarti bermasalah dengan potensi kena marah dan hukuman. Oleh karena itu lumrah saja para peserta rapat akan berupaya menunjukkan warna putih atau mencapai target, walaupun cara yang digunakan dapat merugikan dan membahayakan kinerja bank keseluruhan pada jangka panjang.

Masalah likuiditas bank

Saat ini sedang terjadi masalah likuiditas di sejumlah bank nasional. Menurut Berita koran, konon katanya akibat pertumbuhan kredit belakangan ini lebih cepat dari pertumbuhan dana pihak ketiga. Terkait dengan masalah KPI ini, saya kebetulan mendengar keluhan seorang bankir, dimana terdapat praktek dimana bank pesaing membujuk pemilik dana dari bank nya. Penempatan dilakukan pada tanggal 30 atau 31, dan dapat ditarik lagi tanggal 1 atau 2. Cukup disimpan 3 hari, pemilik dana akan menerima Rp 1 juta untuk setiap milyar dana yang dipindahkan tersebut. Biaya 1 juta katanya diambil dari anggaran pemasaran atau dana taktis. Apakah bermanfaat bagi bank? Tentu saja tidak, karena dana tersebut merupakan kamuflase dan bersifat sangat jangka pendek, dan bank tetap saja mengalmi kesulitan likuiditas.

Praktek sejenis dulu sering dilakukan dengan membujuk nasabah kredit untuk menempatkan dana menjelang akhir bulan dan dikembalikan kembali pada awal bulan berikutnya misalnya dalam bentuk DOC. Model semacam ini juga dapat digunakan untuk menyulap pencapaian target volume kredit. Pegawai bank dapat meminta debitur yang mempunyai kelonggaran tarik menarik kredit (walaupun belum diperlukan) pada menjelang akhir bulan dan menyrtorkan kembali pada rekeningnya pada awal bukan berikutnya.

 Epilog

Mengapa ini terjadi? Karena bank biasanya melihat posisi dana pada akhir bulan. Kalau tidak mencapai target diberi label merah, dan menilai pemilik target mempunyai kinerja jelek. Perilaku ini kiranya dapat dikendalikan apabila bank mengukur kinerja Penghimpunan dana tidak hanya pada akhir bulan, tapi juga secara rata-rata bulanan posisi dana, atau paling tidak dihitung setiap akhir minggu.

Perilaku pegawai yang merugikan bank didorong oleh sistem KPI yang hanya mendorong pencapaian target tanpa memperdulikan dan menilai cara dan proses mencapai target tersebut. Kelemahan yang ditimbulkan biasanya terlihat pada jangka panjang, yang dapat membawa bank dalam berbagai kesulitan.